Minggu, 13 Juli 2014

sesi 1

Seorang guru asal jogja berkata, guru tanpa tanda jasa itu sudah tidak ada lagi sekarang,
“kok gitu mba? saya yang rela dikirim dari aceh, ibu sendiri yang rela pisah dari suami dan anak hampir 5 tahun, bukankah itu guru tanpa tanda jasa?”
“bukan, saya berada disini karena gaji, dan anda sendiripun datang kesini karena gaji bukan?, jika tidak mungkin anda tidak akan mau luntang lantung dinegeri orang seperti ini” aku hanya terdiam, menyimak kalimatnya, kemudian beliau berkata lagi.
“guru tanda jasa itu adalh guru yang tanpa imbalan apa-apa, sekarang saja jika guru honor telat gaji honornya, protes dimana-mana, bener ndak?” sambil melirik kepadaku dengan mata elangnya. aku mengangguk, dan diapun semakin naik saja. kebenaran itu memang benar adanya, saya kemari karena gaji, kerena iming-iming pegawai, sehingga jatuhlah aku di negerei kalimantan ini. yang katanya lubang anting mereka panjang-panjang, mengalahkan anting itu sendiri. aha, itu yang kulihat di atlas, namun nyatanya tidak demikian. ah, fikiranku menerawang lagi.
Pekerjaanku itu-itu saja, ngajar, pulang, makan, dan tidur. berulang setiap harinya. ingin mengajar ngaji, tidak ada TPA. “ kenapa tidak mendirikan TPA saja, kan bagus?” hati berkata memberikan solusi. namun teringat percakapanku dengan guru asal jogja itu lagi.
“mba, disini kok gk kedengaran azan ya?” kataku padanya
“dulu sih ada mba, namun disini kan banyak yang khatolik, mereka terganggu dengan suara azan besar-besar, apa lagi waktu shubuh, jadi, malaslah orang azan” jawabnya datar. huh, solusi hati menguap begitu saja, aku tidak siap untuk dibicarakan dan dicemooh dinegeri orang ini. biarlah aku sendiri  dalam sujudku.
Hampir tiga bulan kami di pedalaman kalbar, tiba-tiba seorang ibu 3 anak meminta kami untuk mengajarkan anaknya mengaji. “wah, ini yang kami tunggu-tunggu” fikirku.
Hari pertama, anak yang sulung dan bungsu datang. yang sulung kelas 1 SMA, bungsu 2 SD. keduanya membawa iqra, dan membuka halaman yang sama.
“kak eni iqra’ berapa?” panggilan sayangku kepada anak yang lebih tua.
“iqra’ 1 bu” serasa hatiku teriris-iris sembilu, sudah SMA masih buta huruf, konon lagi dengan ibunya yang mualaf, apakah bapaknya tidak mengajarkan keluarganya mengaji? bentakku delam hati. ah, ada berapa anak yang seperti mereka ini? berharap hanya mereka saja.
Usai mengaji kami ajarkan mereka doa makan, karena semua doa tak dihafalnya.
“jadi kalau mau makan baca apa?” kataku menatap mata mereka dalam-dalam
“baca bismillahirrohmanirrohim aja bu” dengan logat jawanya.
Alhamdulillah, syukurlah, sekurang-kurangnya mereka masih menyebut nama Allah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar