Seorang guru asal jogja berkata, guru
tanpa tanda jasa itu sudah tidak ada lagi sekarang,
“kok gitu mba? saya yang rela dikirim
dari aceh, ibu sendiri yang rela pisah dari suami dan anak hampir 5 tahun,
bukankah itu guru tanpa tanda jasa?”
“bukan, saya berada disini karena gaji,
dan anda sendiripun datang kesini karena gaji bukan?, jika tidak mungkin anda
tidak akan mau luntang lantung dinegeri orang seperti ini” aku hanya terdiam,
menyimak kalimatnya, kemudian beliau berkata lagi.
“guru tanda jasa itu adalh guru yang
tanpa imbalan apa-apa, sekarang saja jika guru honor telat gaji honornya,
protes dimana-mana, bener ndak?” sambil melirik kepadaku dengan mata elangnya. aku
mengangguk, dan diapun semakin naik saja. kebenaran itu memang benar adanya,
saya kemari karena gaji, kerena iming-iming pegawai, sehingga jatuhlah aku di
negerei kalimantan ini. yang katanya lubang anting mereka panjang-panjang,
mengalahkan anting itu sendiri. aha, itu yang kulihat di atlas, namun nyatanya
tidak demikian. ah, fikiranku menerawang lagi.
Pekerjaanku itu-itu saja, ngajar,
pulang, makan, dan tidur. berulang setiap harinya. ingin mengajar ngaji, tidak
ada TPA. “ kenapa tidak mendirikan TPA saja, kan bagus?” hati berkata
memberikan solusi. namun teringat percakapanku dengan guru asal jogja itu lagi.
“mba, disini kok gk kedengaran azan ya?”
kataku padanya
“dulu sih ada mba, namun disini kan
banyak yang khatolik, mereka terganggu dengan suara azan besar-besar, apa lagi
waktu shubuh, jadi, malaslah orang azan” jawabnya datar. huh, solusi hati
menguap begitu saja, aku tidak siap untuk dibicarakan dan dicemooh dinegeri
orang ini. biarlah aku sendiri dalam
sujudku.
Hampir tiga bulan kami di pedalaman
kalbar, tiba-tiba seorang ibu 3 anak meminta kami untuk mengajarkan anaknya
mengaji. “wah, ini yang kami tunggu-tunggu” fikirku.
Hari pertama, anak yang sulung dan
bungsu datang. yang sulung kelas 1 SMA, bungsu 2 SD. keduanya membawa iqra, dan
membuka halaman yang sama.
“kak eni iqra’ berapa?” panggilan
sayangku kepada anak yang lebih tua.
“iqra’
1 bu” serasa hatiku teriris-iris sembilu, sudah SMA masih buta huruf, konon
lagi dengan ibunya yang mualaf, apakah bapaknya tidak mengajarkan keluarganya
mengaji? bentakku delam hati. ah, ada berapa anak yang seperti mereka ini?
berharap hanya mereka saja.
Usai
mengaji kami ajarkan mereka doa makan, karena semua doa tak dihafalnya.
“jadi
kalau mau makan baca apa?” kataku menatap mata mereka dalam-dalam
“baca
bismillahirrohmanirrohim aja bu” dengan logat jawanya.
Alhamdulillah,
syukurlah, sekurang-kurangnya mereka masih menyebut nama Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar