Kamis, 10 Juli 2014

lambung



Diperutmu aku bernaung
Secercah cahaya peninggalan alfa Edison tertancap kokoh di pusatmu
Lambungmu meradang ketika bau asam kubiarkan
Engkau sakit
Namun terkadang aku pura-pura tak tau

Disana, dilambungmu yang penuh serakan kertas kuliahku
Aku berjalan berjinjit, tidur dalam taburan kertas
setia dengarkan keluh kesahku
Hingga mual
Sekali lagi, aku tak peduli

“jaga lambung sempitmu itu”
seseorang dari negri 1001 malam manyapa
Aku diam tak bergerak, mencerna kata-kata ajaib itu
“kau harus tau, aku sedang final”
Suara kembali bergema
“pemalas”


11:14, 2 januari 2011 (for u farah)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar