Bapak…..
pernah engkau bosan dengan parang
letih hadapi cangkul
muak melihat ayam bertelur
saat itu, mata layumu berkedip
memberi rencong tajam wasiat dari cut mutia
“anakku, tancapkan keperut-perut musuh yang kau tau”
Semangatku hilang dan terobati kembali karna ceritamu
Semangat membeli topi toga untuk adikmu
Bukan untukmu
Berguling di lautan peluh
Hingga matamu layu
Setelah topi toga terududuk di kepala adikmu
Sebelum aku muncul meminta topi toga yang serupa itu
Tapi tenagamu masih saja utuh
Bapak….
Aku ingin pulang, dengar cerita-ceritamu dulu
Membawa becak dipemakaman
Membawa truk dipantai
Membawa parang kehutan
Bapak…
Aku tahu, semangat belajarmu masih ada hingga kini
Terukir dari senyummu dan tatapan nanar itu
Namun, semua itu Terkubur diujung mata
bapak….
kau lihat wajahku dengan meraba
Kau ukir wajahku dengan harapan indah disana
Kau mengajariku melihat bintang
tapi kau tak dapat melihat
bintang itu
Sehingga darahku mendidih, mambakar semangatku
Aku berjanji mulai hari ini
Akan ku kayuh sepeda mencari bintang harapan untukmu bapak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar