Minggu, 13 Juli 2014

filosofi kopi

Judul buku       : Filosofi Kopi
Pengarang       : Dee
Penerbit          : Gagas media, Jakarta
Cetakan           : VII, 2007
Tebal               : xi+135 ISBN 979-96257-3-4

Dee, memiliki nama asli Dewi lestari, buku ini merupakan Kumpulan cerpen dan prosa yang memancing perasaan dan mengharapkan perhatian,  didalamnya terdapat 18 buah cerpen dan prosa yang disusun selama 1 dekade, mulai dari tahun 1995 hingga 2005, judul-judul kecil dibuku ini terdiri dari, filosofi kopi, mencari herman, surat yang tak pernah sampai, salju gurun, kunci hati, selagi kau lelap, sikat gigi, jembatan zaman, kuda liar, sepotong kue kuning, diam, cuaca, lara lana, lilin merah, spasi, cetak biru, budha bar, dan rico de coro.
            Filosofi kopi ditulis Pada tahun 1996, dee menceritakan seseorang penjaga bar kopi yang sangat fanatik dengan kesempurnaan, melebih-lebihkan sesuatu yang biasa-biasa saja, ben seperti memiliki ilmu pemikat yang sangat kuat,usaha yang benar-benar mantap, seperti seorag seniman yang lupa bercukur. Dan dia benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan, namun pada akhirnya ia dikejutkan oleh kopi tiwus, yang rasanya hampir sama dengan rasa kopi sempurnanya, namun harga kopi tiwus itu belasan kali lipat lebih murah dari harga kopi sempurna. Bahkan, kopi tiwus ini tak ada harganya.
            Cerpen Ditahun 1995, tidak kalah menarik, membacanya seperti menonton film kartun, sedikit menggelikan dan kejam, cinta seekor kecoak dapur yang bernama riko, yang jatuh cinta pada manusia berumur 15 tahun, bernama sarah. warga kecoak murka kepadanya, karna manusia-manusia itu sering membantai mereka secara massal. Menjadikan umpan sepasang ikan arwana, terlebih lagi ayah kandungnya yang menjabat sebagai raja, namun hanya seorang yang mengerti perasaan riko, ibu tirinya yang bernama vinolia, Riko benar-benar mencintai anak manusia itu, hingga ia rela korbankan nyawa, dinjak dan dibantai oleh david dengan sandal jepit, abang kandung  sarah. Hingga akhirnya menjadi pangeran satu malam dialam fikiran sarah. Kemudian ia puas dan pergi kealam barunya yang fana.
            Prosa yang berjudul salju gurun, ditulis pada tahun 1998, mengajak pembaca menjadi salju gurun, jangan terus ikut-ikutan menjadi sebutir debu kuning, sebuah oase dan sepohon kaktus.
            “ditengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah”
            Diam, sebuah prosa yang ditulisnya pada tahun 2000, seorang sahabat yang tak mau berbagi duka, namun ia dekati dengan pelukan dan diam. Hanya untuk mengatakan bahwa ia tidak sendiri, dan ini dunianya.
            Banyak prosa-prosa lainnya yang menjadi bahan bakar menuju perjalanan panjang, seperti Kuda Liar, menceritakan kebebasan. Spasi, tentang hubungan ibarat sebuah tali. Cetak Biru, tentang rancangan-rancangan masa depan yang terukir dikepala.

            Dee meramu karya-karyanya tanpa malu-malu, liar dan energik. Jantung seakan naik turun lebih cepat jika terbawa emosi. begitu kaya dengan diksi-diksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar