Judul buku : Filosofi Kopi
Pengarang : Dee
Penerbit : Gagas media, Jakarta
Cetakan : VII, 2007
Tebal : xi+135 ISBN 979-96257-3-4
Dee, memiliki nama
asli Dewi lestari, buku ini merupakan Kumpulan cerpen dan prosa yang memancing
perasaan dan mengharapkan perhatian,
didalamnya terdapat 18 buah cerpen dan prosa yang disusun selama 1
dekade, mulai dari tahun 1995 hingga 2005, judul-judul kecil dibuku ini terdiri
dari, filosofi kopi, mencari herman, surat yang tak pernah sampai, salju gurun,
kunci hati, selagi kau lelap, sikat gigi, jembatan zaman, kuda liar, sepotong
kue kuning, diam, cuaca, lara lana, lilin merah, spasi, cetak biru, budha bar,
dan rico de coro.
Filosofi kopi ditulis Pada tahun 1996, dee menceritakan
seseorang penjaga bar kopi yang sangat fanatik dengan kesempurnaan,
melebih-lebihkan sesuatu yang biasa-biasa saja, ben seperti memiliki ilmu
pemikat yang sangat kuat,usaha yang benar-benar mantap, seperti seorag seniman
yang lupa bercukur. Dan dia benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan, namun
pada akhirnya ia dikejutkan oleh kopi tiwus, yang rasanya hampir sama dengan
rasa kopi sempurnanya, namun harga kopi tiwus itu belasan kali lipat lebih murah dari harga kopi sempurna.
Bahkan, kopi tiwus ini tak ada harganya.
Cerpen Ditahun 1995, tidak kalah menarik, membacanya
seperti menonton film kartun, sedikit menggelikan dan kejam, cinta seekor
kecoak dapur yang bernama riko, yang jatuh cinta pada manusia berumur 15 tahun,
bernama sarah. warga kecoak murka kepadanya, karna manusia-manusia itu sering
membantai mereka secara massal. Menjadikan umpan sepasang ikan arwana, terlebih
lagi ayah kandungnya yang menjabat sebagai raja, namun hanya seorang yang mengerti
perasaan riko, ibu tirinya yang bernama vinolia, Riko benar-benar mencintai
anak manusia itu, hingga ia rela korbankan nyawa, dinjak dan dibantai oleh
david dengan sandal jepit, abang kandung
sarah. Hingga akhirnya menjadi pangeran satu malam dialam fikiran sarah.
Kemudian ia puas dan pergi kealam barunya yang fana.
Prosa yang berjudul salju gurun, ditulis pada tahun 1998,
mengajak pembaca menjadi salju gurun, jangan terus ikut-ikutan menjadi sebutir
debu kuning, sebuah oase dan sepohon kaktus.
“ditengah gurun
yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu,
angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus
terperangah”
Diam, sebuah prosa yang ditulisnya pada tahun 2000,
seorang sahabat yang tak mau berbagi duka, namun ia dekati dengan pelukan dan
diam. Hanya untuk mengatakan bahwa ia tidak sendiri, dan ini dunianya.
Banyak prosa-prosa lainnya yang menjadi bahan bakar
menuju perjalanan panjang, seperti Kuda Liar, menceritakan kebebasan. Spasi,
tentang hubungan ibarat sebuah tali. Cetak Biru, tentang rancangan-rancangan
masa depan yang terukir dikepala.
Dee meramu karya-karyanya tanpa malu-malu, liar dan
energik. Jantung seakan naik turun lebih cepat jika terbawa emosi. begitu kaya
dengan diksi-diksi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar