Selasa, 06 Januari 2015

Bahasa Bibir
by: mardhatillah syah (140414)

terkadang bahasa bibir tak bermakna
maka, tulisanlah sebagai penyempurna

elok bahasa dan indahnya kata terukir disana
ditulisan-tulisannya
mengerti apa yang dia rasa
berwarna warna kelihatannya.

namun ketika kata terucap
tidak ada rasa, tidak ada warna
gelap tidak bercahaya
kaku bahkan garing sekali

walau diksi-diksi terucap lirih

Senin, 14 Juli 2014

Mempelajari sifat anak didik

Sekolah pengabdianku terbuat dari kayu, berlantai papan, yang terlihat sedikit bagus hanya perpustakaan saja, itupun tidak dikelola dengan baik, tidak ada penjaga perpustakaan yang selalu berada disana. anak-anak dibiarkan dengan sendirinya datang keperpustakaan, ketika buku hilang, anak-anaklah yang disalahkan.
Begitu juga dengan laboraturium yang benar-benar berantakan. kaca prepararat beratus-ratus hancur seperti abu. puluhan mikroskop tanpa lensa lagi, stetoskop tanpa alat pendengar. “semua karna ulah anak-anak yang tidak bertanggung jawab”. jawab beberapa orang guru.
Mereka tidak mengerti, kalau barang itu berharga, jika tidak dijaga dengan ketat oleh sekolah, sehingga seenak tangannya saja mereka mengambil. toh tidak ada yang melihatnya. begitulah anak-anak di usia 12-15 tahun ini. apa saja mereka pegang, tanpa tau akibatnya.

Pernah suatu hari, saya meminta salah seorang anak membawa lampu neon yang sudah rusak, kemudian saya membongkar bagian logamnya, dan telihat rangkaian listrik yang tersusun sedemikian rupa, tujuan saya untuk memperlihatkan kepada anak-anak  mana yang dinamakan dengan resistor. namun, apa yang terjadi, setelah saya meminta mereka menggilirkan satu persatu rangkaian dalam lampu tadi. ternyata semua rangkaian yang melekat sudah lepas satu persatu. aku meletakkan rangkaian kosong tersebut ditelapak tangan, dan mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian bertanya “kemana resistor beserta kawan-kawannya?” salah seorang menjawab,
“udah lepas semua bu”
“salah dia bu”
“bukan bu”
“tu lah, ndak ada tanggung jawab” mereka bersahut-sahutan seperti pasar ikan, aku hanya kembali duduk di bangku, menopang kepala pada tangan yang bertumpu pada meja, sambil geleng-geleng tidak habis pikir, kemudian aku tersenyum kepada mereka. merekapun membalas senyum setelah mereka menuduh satu sama lain.
Ternyata, begitu penasarannya mereka, tanpa komando apapun dariku, mereka membongkarnya sendiri, mungkin karena pada awal pembelajaran mereka melihatku membongkar dengan gampangnya, kemudian melakukan hal yang serupa. nah, itu artinya, ANAK BANYAK MELAKUKAN APA YANG KITA LAKUKAN, SEDIKIT MELAKUKAN APA YANG KITA KATAKAN.
Sekolah pengabdianku, berdindingkan kayu dan berlantai kayu, sehingga aktifitas kelas sebelah dapat kita ketahui, apa lagi kelasku, suasananya benar-benar ramai, benar-benar mengganggu kelas sebelah. kelasku akan diam ketika mereka sedang ulangan.
Pernah suatu hari saya mengajar materi biologi, menghitung denyut nadi ketika istirahat dan ketika setelah melakukan kegiatan melompat. ini akan sangat menganggu sekali, jika kegiatan melompat dilakukan didalam kelas. maka, aku ajak mereka keluar kelas, dan melompatlah mereka dengan puas disana, tanpa harus menganggu teman-teman yang lain., merekapun bebas tertawa ketika melihat temannya melompat-lompat.
Baiklah, saya menemukan sifat rata-rata anak seperti ini, setelah kita berikan hal yang rill dalam kehidupan, maka daya kreatifitas anak muncul sangat pesat. perumpamaannya seperti ini, 1 kali yang kita lakukan, maka 10 kali mereka lakukan. satu hal lagi sifat anak yang kutemukan, anak tidak menyukai pembelajaran yang sifatnya menoton, insya Allah mereka akan bosan.

Minggu, 13 Juli 2014

filosofi kopi

Judul buku       : Filosofi Kopi
Pengarang       : Dee
Penerbit          : Gagas media, Jakarta
Cetakan           : VII, 2007
Tebal               : xi+135 ISBN 979-96257-3-4

Dee, memiliki nama asli Dewi lestari, buku ini merupakan Kumpulan cerpen dan prosa yang memancing perasaan dan mengharapkan perhatian,  didalamnya terdapat 18 buah cerpen dan prosa yang disusun selama 1 dekade, mulai dari tahun 1995 hingga 2005, judul-judul kecil dibuku ini terdiri dari, filosofi kopi, mencari herman, surat yang tak pernah sampai, salju gurun, kunci hati, selagi kau lelap, sikat gigi, jembatan zaman, kuda liar, sepotong kue kuning, diam, cuaca, lara lana, lilin merah, spasi, cetak biru, budha bar, dan rico de coro.
            Filosofi kopi ditulis Pada tahun 1996, dee menceritakan seseorang penjaga bar kopi yang sangat fanatik dengan kesempurnaan, melebih-lebihkan sesuatu yang biasa-biasa saja, ben seperti memiliki ilmu pemikat yang sangat kuat,usaha yang benar-benar mantap, seperti seorag seniman yang lupa bercukur. Dan dia benar-benar mendapatkan apa yang dia inginkan, namun pada akhirnya ia dikejutkan oleh kopi tiwus, yang rasanya hampir sama dengan rasa kopi sempurnanya, namun harga kopi tiwus itu belasan kali lipat lebih murah dari harga kopi sempurna. Bahkan, kopi tiwus ini tak ada harganya.
            Cerpen Ditahun 1995, tidak kalah menarik, membacanya seperti menonton film kartun, sedikit menggelikan dan kejam, cinta seekor kecoak dapur yang bernama riko, yang jatuh cinta pada manusia berumur 15 tahun, bernama sarah. warga kecoak murka kepadanya, karna manusia-manusia itu sering membantai mereka secara massal. Menjadikan umpan sepasang ikan arwana, terlebih lagi ayah kandungnya yang menjabat sebagai raja, namun hanya seorang yang mengerti perasaan riko, ibu tirinya yang bernama vinolia, Riko benar-benar mencintai anak manusia itu, hingga ia rela korbankan nyawa, dinjak dan dibantai oleh david dengan sandal jepit, abang kandung  sarah. Hingga akhirnya menjadi pangeran satu malam dialam fikiran sarah. Kemudian ia puas dan pergi kealam barunya yang fana.
            Prosa yang berjudul salju gurun, ditulis pada tahun 1998, mengajak pembaca menjadi salju gurun, jangan terus ikut-ikutan menjadi sebutir debu kuning, sebuah oase dan sepohon kaktus.
            “ditengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah”
            Diam, sebuah prosa yang ditulisnya pada tahun 2000, seorang sahabat yang tak mau berbagi duka, namun ia dekati dengan pelukan dan diam. Hanya untuk mengatakan bahwa ia tidak sendiri, dan ini dunianya.
            Banyak prosa-prosa lainnya yang menjadi bahan bakar menuju perjalanan panjang, seperti Kuda Liar, menceritakan kebebasan. Spasi, tentang hubungan ibarat sebuah tali. Cetak Biru, tentang rancangan-rancangan masa depan yang terukir dikepala.

            Dee meramu karya-karyanya tanpa malu-malu, liar dan energik. Jantung seakan naik turun lebih cepat jika terbawa emosi. begitu kaya dengan diksi-diksi.

Bintang Harapan Untuk bapak


Bapak…..
pernah engkau bosan dengan parang
letih hadapi cangkul
muak melihat ayam bertelur
saat itu, mata layumu berkedip
memberi rencong tajam wasiat dari cut mutia

“anakku, tancapkan keperut-perut musuh yang kau tau”
Semangatku hilang dan terobati kembali karna ceritamu
Semangat membeli topi toga untuk adikmu
Bukan untukmu
Berguling di lautan peluh
Hingga matamu layu
Setelah topi toga terududuk di kepala adikmu
Sebelum aku muncul meminta topi toga yang serupa itu
Tapi tenagamu masih saja utuh

Bapak….
Aku ingin pulang, dengar cerita-ceritamu dulu
Membawa becak dipemakaman
Membawa truk dipantai
Membawa parang kehutan

Bapak…
Aku tahu, semangat belajarmu masih ada hingga kini
Terukir dari senyummu dan tatapan nanar itu
Namun, semua itu Terkubur diujung mata

bapak….
kau lihat wajahku dengan meraba
Kau ukir wajahku dengan harapan indah disana
Kau mengajariku melihat bintang
 tapi kau tak dapat melihat bintang itu
Sehingga darahku mendidih, mambakar semangatku
Aku berjanji mulai hari ini
Akan ku kayuh sepeda mencari bintang harapan untukmu bapak

Mardhatillah, mahasiswa fkip fisika unsyiah (26042011)

sesi 1

Seorang guru asal jogja berkata, guru tanpa tanda jasa itu sudah tidak ada lagi sekarang,
“kok gitu mba? saya yang rela dikirim dari aceh, ibu sendiri yang rela pisah dari suami dan anak hampir 5 tahun, bukankah itu guru tanpa tanda jasa?”
“bukan, saya berada disini karena gaji, dan anda sendiripun datang kesini karena gaji bukan?, jika tidak mungkin anda tidak akan mau luntang lantung dinegeri orang seperti ini” aku hanya terdiam, menyimak kalimatnya, kemudian beliau berkata lagi.
“guru tanda jasa itu adalh guru yang tanpa imbalan apa-apa, sekarang saja jika guru honor telat gaji honornya, protes dimana-mana, bener ndak?” sambil melirik kepadaku dengan mata elangnya. aku mengangguk, dan diapun semakin naik saja. kebenaran itu memang benar adanya, saya kemari karena gaji, kerena iming-iming pegawai, sehingga jatuhlah aku di negerei kalimantan ini. yang katanya lubang anting mereka panjang-panjang, mengalahkan anting itu sendiri. aha, itu yang kulihat di atlas, namun nyatanya tidak demikian. ah, fikiranku menerawang lagi.
Pekerjaanku itu-itu saja, ngajar, pulang, makan, dan tidur. berulang setiap harinya. ingin mengajar ngaji, tidak ada TPA. “ kenapa tidak mendirikan TPA saja, kan bagus?” hati berkata memberikan solusi. namun teringat percakapanku dengan guru asal jogja itu lagi.
“mba, disini kok gk kedengaran azan ya?” kataku padanya
“dulu sih ada mba, namun disini kan banyak yang khatolik, mereka terganggu dengan suara azan besar-besar, apa lagi waktu shubuh, jadi, malaslah orang azan” jawabnya datar. huh, solusi hati menguap begitu saja, aku tidak siap untuk dibicarakan dan dicemooh dinegeri orang ini. biarlah aku sendiri  dalam sujudku.
Hampir tiga bulan kami di pedalaman kalbar, tiba-tiba seorang ibu 3 anak meminta kami untuk mengajarkan anaknya mengaji. “wah, ini yang kami tunggu-tunggu” fikirku.
Hari pertama, anak yang sulung dan bungsu datang. yang sulung kelas 1 SMA, bungsu 2 SD. keduanya membawa iqra, dan membuka halaman yang sama.
“kak eni iqra’ berapa?” panggilan sayangku kepada anak yang lebih tua.
“iqra’ 1 bu” serasa hatiku teriris-iris sembilu, sudah SMA masih buta huruf, konon lagi dengan ibunya yang mualaf, apakah bapaknya tidak mengajarkan keluarganya mengaji? bentakku delam hati. ah, ada berapa anak yang seperti mereka ini? berharap hanya mereka saja.
Usai mengaji kami ajarkan mereka doa makan, karena semua doa tak dihafalnya.
“jadi kalau mau makan baca apa?” kataku menatap mata mereka dalam-dalam
“baca bismillahirrohmanirrohim aja bu” dengan logat jawanya.
Alhamdulillah, syukurlah, sekurang-kurangnya mereka masih menyebut nama Allah. 


Kamis, 10 Juli 2014

Perjuangan Menuju Kiamat



Mari kita lihat potongan hadis berikut, yaitu Ketika rasulullah ditanyai tentang hari kiamat oleh jibril, maka rasulullah pun menjawab, “yang ditanya tidak lebih tau dari pada yang bertanya”.  Kemudian jibril kembali bertanya, "Beritahu aku tentang tanda-tandanya." Rasulullah menjawab, "Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat."
Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya, mungkin disini digambarkan tentang perselingkuhan antara sekretaris dengan bosnya, sehingga menghasilkan anak dari perbuatan dosa mereka, ataupun juga, seorang ibu yang melahirkan anaknya, namun si anak memperlakukan ibunya layaknya seperti pembantu.
Orang-orang tanpa sandal, mungkin disini tergambar bahwa banyaknya rakyat yang melarat, sehingga sendalpun susah untuk dibeli, lihatlah di sudut-sudut kota Aceh, pengemis bersileweran di mana-mana, di mesjid baiturrahman, di pertokoan, bahkan di kampus-kampuspun tidak jarang kita temukan, terkadang membawa bayi, buta, cacat dan lain sebagainya. Coba putar kembali ingatan kita, tepatnya di simpang galon darussalam, seorang laki-laki lumpuh yang terbilang masih muda, diletakkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab di jalanan itu tanpa alas, panas terik, debu dimana-mana. Mungkin dia tidak ingin melakukan itu, namun apa yang harus dia perbuat dengan kaki kecilnya, kalau tidak hanya mengikuti saja. Ada apa dengan orang-orang tersebut, apakah negara tidak sanggup untuk membantu mereka, jika kita kumpulkan uang rakyat yang dikorup oleh tikus-tikus kantor, mungkin dengan uang tersebut mampu mensejahterakan seluruh rakyat indonesia, sehingga masyarakat tidak lagi harus meminta-minta dijalanan.
Satu lagi tanda kiamat yang sudah menjadi tontonan umum, yaitu adanya wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, Bukankah kita diharuskan untuk menutup aurat, dan mengulurkannya hingga kedada?, sesuai dengan perintah Allah dalam Surat Annur ayat 31 yang artinya:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” Masihkah kalian semua wahai saudariku untuk tidak menutup aurat, Padahal itu adalah hal yang sangat dilarang oleh Allah S.W.T?
Satu lagi tanda-tanda kiamat yaitu Pengembala unta berbondong-bondong membangun rumah yang megah, mungkin kita pernah terbesit dihati, ketika seseorang yang baru saja diangkat menjadi karyawan disebuah perusahaan, dan kitapun tahu berapa pendapatannya setiap bulan, namun tiba-tiba sebuah mobil mewah ataupun rumah sudah mereka dapatkan, bukan untuk berburuk sangka atau sejenisnya, mungkin saja mereka mendapatkannya dari jalan kredit atau bahkan mendapatkan uang kaget lainnya, namun apakah ini tanda-tanda kiamat yang dikatakan rasulullah diatas?
Periode kekuasaan sudah berjalan 4 kali kekuasaan, yaitu masa pemerintahan Rasulullah, khalifah urasyidin, pemimpin yang menggigit, pemimpin yang diktator yang banyak kita jumpai sekarang, dan pada akhirnya kita akan memasuki kembali kepada kejayaan islam yang sesuai dengan Alquran dan Al hadist, sekarang kita berada dalam kepemimpinan yang diktator, atau bahkan menuju kekuasaan yang ke lima, yaitu kembali ke ajaran yang benar, setelah kekuasaan ini tidak ada lagi kekuasaan yang lain, dalam artian kehidupan dunia akan dihentikan, dan terjadilah kiamat.
Selaku umat islam yang beriman pasti akan percaya penuh akan datangnya hari kiamat ini, jadi, seberapapun cemasnya kita, hari itu pasti akan datang juga, yang harus kita perbuat sekarang adalah, mempercepat penyebaran dakwah islam secara menyeluruh, sehingga menyentuh ke semua aspek kehidupan, dengan begitu islam akan bangkit kembali.
Sungguh perilaku yang salah, ketika kita begitu asyik dengan ibadah kita sendiri, tanpa memperdulikan apa yang sedang terjadi diluar sana, bahkan perhatian kepada keluargapun sangat minim. bukankah syurga itu luasnya tidak berbatas? Jadi mengapa kita harus takut dan enggan untuk mengajak orang lain menuju jalan yang benar?

lambung



Diperutmu aku bernaung
Secercah cahaya peninggalan alfa Edison tertancap kokoh di pusatmu
Lambungmu meradang ketika bau asam kubiarkan
Engkau sakit
Namun terkadang aku pura-pura tak tau

Disana, dilambungmu yang penuh serakan kertas kuliahku
Aku berjalan berjinjit, tidur dalam taburan kertas
setia dengarkan keluh kesahku
Hingga mual
Sekali lagi, aku tak peduli

“jaga lambung sempitmu itu”
seseorang dari negri 1001 malam manyapa
Aku diam tak bergerak, mencerna kata-kata ajaib itu
“kau harus tau, aku sedang final”
Suara kembali bergema
“pemalas”


11:14, 2 januari 2011 (for u farah)