Senin, 14 Juli 2014

Mempelajari sifat anak didik

Sekolah pengabdianku terbuat dari kayu, berlantai papan, yang terlihat sedikit bagus hanya perpustakaan saja, itupun tidak dikelola dengan baik, tidak ada penjaga perpustakaan yang selalu berada disana. anak-anak dibiarkan dengan sendirinya datang keperpustakaan, ketika buku hilang, anak-anaklah yang disalahkan.
Begitu juga dengan laboraturium yang benar-benar berantakan. kaca prepararat beratus-ratus hancur seperti abu. puluhan mikroskop tanpa lensa lagi, stetoskop tanpa alat pendengar. “semua karna ulah anak-anak yang tidak bertanggung jawab”. jawab beberapa orang guru.
Mereka tidak mengerti, kalau barang itu berharga, jika tidak dijaga dengan ketat oleh sekolah, sehingga seenak tangannya saja mereka mengambil. toh tidak ada yang melihatnya. begitulah anak-anak di usia 12-15 tahun ini. apa saja mereka pegang, tanpa tau akibatnya.

Pernah suatu hari, saya meminta salah seorang anak membawa lampu neon yang sudah rusak, kemudian saya membongkar bagian logamnya, dan telihat rangkaian listrik yang tersusun sedemikian rupa, tujuan saya untuk memperlihatkan kepada anak-anak  mana yang dinamakan dengan resistor. namun, apa yang terjadi, setelah saya meminta mereka menggilirkan satu persatu rangkaian dalam lampu tadi. ternyata semua rangkaian yang melekat sudah lepas satu persatu. aku meletakkan rangkaian kosong tersebut ditelapak tangan, dan mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian bertanya “kemana resistor beserta kawan-kawannya?” salah seorang menjawab,
“udah lepas semua bu”
“salah dia bu”
“bukan bu”
“tu lah, ndak ada tanggung jawab” mereka bersahut-sahutan seperti pasar ikan, aku hanya kembali duduk di bangku, menopang kepala pada tangan yang bertumpu pada meja, sambil geleng-geleng tidak habis pikir, kemudian aku tersenyum kepada mereka. merekapun membalas senyum setelah mereka menuduh satu sama lain.
Ternyata, begitu penasarannya mereka, tanpa komando apapun dariku, mereka membongkarnya sendiri, mungkin karena pada awal pembelajaran mereka melihatku membongkar dengan gampangnya, kemudian melakukan hal yang serupa. nah, itu artinya, ANAK BANYAK MELAKUKAN APA YANG KITA LAKUKAN, SEDIKIT MELAKUKAN APA YANG KITA KATAKAN.
Sekolah pengabdianku, berdindingkan kayu dan berlantai kayu, sehingga aktifitas kelas sebelah dapat kita ketahui, apa lagi kelasku, suasananya benar-benar ramai, benar-benar mengganggu kelas sebelah. kelasku akan diam ketika mereka sedang ulangan.
Pernah suatu hari saya mengajar materi biologi, menghitung denyut nadi ketika istirahat dan ketika setelah melakukan kegiatan melompat. ini akan sangat menganggu sekali, jika kegiatan melompat dilakukan didalam kelas. maka, aku ajak mereka keluar kelas, dan melompatlah mereka dengan puas disana, tanpa harus menganggu teman-teman yang lain., merekapun bebas tertawa ketika melihat temannya melompat-lompat.
Baiklah, saya menemukan sifat rata-rata anak seperti ini, setelah kita berikan hal yang rill dalam kehidupan, maka daya kreatifitas anak muncul sangat pesat. perumpamaannya seperti ini, 1 kali yang kita lakukan, maka 10 kali mereka lakukan. satu hal lagi sifat anak yang kutemukan, anak tidak menyukai pembelajaran yang sifatnya menoton, insya Allah mereka akan bosan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar